<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610</id><updated>2012-01-06T09:47:38.086-08:00</updated><title type='text'>metacinta conie sema</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-7698896722414921004</id><published>2010-12-02T09:40:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T09:40:21.900-08:00</updated><title type='text'>Carole King It's too late -Live in room sound</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/Sb5MORLi8K0?fs=1" width="425" frameborder="0" height="344"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-7698896722414921004?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/7698896722414921004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=7698896722414921004' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/7698896722414921004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/7698896722414921004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2010/12/carole-king-its-too-late-live-in-room.html' title='Carole King It&apos;s too late -Live in room sound'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/Sb5MORLi8K0/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-6156082576176918888</id><published>2010-03-24T08:50:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T08:50:50.053-07:00</updated><title type='text'>Teater</title><content type='html'>&lt;h2 class="title"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Tubuh Tanpa Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;img alt="coba" src="http://www.beritamusi.com/media/musi/kolom/tubuh_210x210.jpg" /&gt;                          &lt;br /&gt;&lt;div class="tanggal"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;12.12.2009 14:23:41 WIB&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh CONIE SEMA* &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teater dan aku tiba-tiba dikejutkan narasi media membludak masuk ke  rumahku. Ia melangkah setiap tapak ratusan kilometer jauhnya. Namun  tubuh besar tersebut melenggang tanpa ada kesulitan memasuki ruang demi  ruang rumahku. Hingga ada bersama di atas tempat tidur kami... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran bahasa di atas adalah salah satu peristiwa paradoks yang  secara alamiah beradaptasi menjadi hal biasa. Dapat diterima  kehadirannya. Ketika peristiwa tersebut berlangsung aku melihat banyak  tubuh pecah melahirkan ribuan tubuh bersama peristiwa yang melatarinya.  Teater menjadi sosok yang hilang dari keagungan karakter. Seluruh tokoh  tidak lagi memperbincangkan persoalan menjadi dirinya atau orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meta bahasa bersama tubuh yang esensial lalu lalang dengan penandaan  nilai budaya, tradisi, bahkan tuhan. Seakan hendak mengatakan realitas  sejarah ibu dan anak. Seperti kegelisahan mengucapkan kembali 100 tahun  bersama ibu dan abjad turunannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang ganjil ketika teater menghitung satu persatu bahasa dan  beragam teks lainnya, dari panggung pertunjukan (&lt;i&gt;peformance art&lt;/i&gt;),  apabila mampu menghibur, berempati dan lain-lain. Atau sebaliknya,  membosankan, norak, mengada-ada dan umpatan lainnya. Standarisasi itu  yang mengesankan aku menjadi "lain" ketika melihat tubuh secara visual  menjadi sosok lain yang melepaskan hitungan matematika atau persoalan  ibu dan anak. Sehingga aku harus mencari pengucapan lain dari fenomena  narasi media yang setiap hari masuk ke rumah, tanpa ukuran tubuh yang  jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca rumahku, setelah 100 tahun menutup pintu ibu. Kalimat  pendek itulah yang muncul sebagai siasat untuk tetap bertahan dalam  ruang-ruang yang sangat disibukkan oleh peristiwa penandaan. Aku seakan  berteriak mengajak orang-orang kampungku untuk memecah tubuhnya menjadi  pribadi-pribadi yang tak muncul sebelumnya. Berat memang! tetapi  setidaknya ada kegelisahan baru yang melahirkan sebuah peristiwa teater.  Meski akan menjumpai kesepian baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, tubuh teater kita hari ini bukan tubuh yang teratur  atau liar, seperti teks Teater Garasi atau Tetas. Kita bukanlah tubuh  yang dinyatakan atau menyatakan. Tubuh itu tak pernah ada, jika sesekali  dia mampir ke ruang kita, itu pun hanya pernyataan teks sebagai isyarat  kecemasan atau tanda bahaya. Stanislavski ada dalam tubuh yang  dinyatakan. sehingga teater hanya sebatas sekolah dan masjid. Ruang lain  menjadi sepi tak terisi...potlot berusaha hadir dalam ruang kesepian  itu. Menjadi tubuh baru yang bebas bergerak dan membentuk ribuan ruang  dengan ribuan tubuh yang berbeda, seperti hendak mendeklarasikan  kematian bahasa dan sejarah dirinya, setiap hari. hahahaha...! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Jurnalis dan pekerja seni &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: www.solopos.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-6156082576176918888?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/6156082576176918888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=6156082576176918888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6156082576176918888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6156082576176918888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2010/03/teater.html' title='Teater'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-3642462782953713673</id><published>2010-03-20T10:11:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T10:11:33.346-07:00</updated><title type='text'>Portofolio</title><content type='html'>&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; &lt;div&gt;Catatan Conie Sema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Aku kembali membaca rumahku. &lt;br /&gt;Setelah 100 tahun menutup pintu ibu...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Portofolio dalam ruang pribadi seseorang tidak sekedar sekumpulan informasi pribadi. Atau catatan dan dokumentasi atas pencapaian prestasi dalam parameter tertentu. Peristiwa penting bahkan teramat penting, kadangkala memprasastikan sejarah hidup dirinya sehingga begitu getir, erotik dan selebrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sumber portofolio sejarah, jika kita mengumpulkan kembali serpihan ingatan masa kecil, 50 tahun lalu. Seperti pengalaman tragis masa poskolonial, ketika kita hendak menuju Indonesia menjadi sebuah negara, atau sering disebut proses “menjadi Indonesia”. Memoar hidup masa itu penuh dengan coretan hitam, penaklukan dan kekuasaan. Penindasan, penghinaan, dendam, kekalahan, dan gemuruh perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegetiran dan tragedi hadir dalam ruang refleksi kita. Menjadi gumpalan energi untuk berpikir dan meluapkan kreativitas, bahkan melawan untuk memerdekakan diri kita. Begitu banyak syair mengungkapkan kritik, sikap pribadi, dan ketegasan untuk menolak segala bentuk penindasan masa poskolonial tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kadangkala kita tidak jujur mengakui bahwa kita dan masa lalu bangsa kita banyak tumbuh dari kebohongan. Kita merasa selesai merumuskan Indonesia setelah menuliskan manuskrip negara bernama Indonesia dari selembar teks, yang hanya disaksikan dan dihadiri segelintir anak-anak bangsa. Kegetiran tersebut bisa saja menjadi ruang teks kita untuk membaca dan menuliskan kembali tragedi sekitar kita ketika banyak orang merasa tidak meyakini Indonesia. Atau ada upaya untuk melepaskan teks dirinya dari sebuah kolektifitas yang integratif. Fenomena tersebut sering menjadi kegetiran yang ‘berpihak’ atau penisbihkan teks-teks kolektif atau kebangsaan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wilayah kontestasi karya, banyak peristiwa atau fakta yang kita manipulir di ruang informasi publik. Kamuflase-kamuflase itu sebetulnya dilakukan hanya sebatas pertimbangan kebutuhan tertentu, yang tanpa kita sadari telah membunuh kreativitas dan proses mengukuhkan eksistensi berpikir. Berpuluh-puluh tahun kita dihadapkan kontestasi karya, sastra misalnya, selalu dijejali subjek-subjek kepentingan. Ironisnya, kepentingan tersebut di luar imajinasi dan inspirasi pribadi. Bagaimana mungkin kita dapat menjadi tubuh sastra yang merdeka? Seperti ironi yang ditulis Dimas Agoes Pelaz berikut, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Sang Raja di Negeri Antah Berantah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai rakyatku,&lt;br /&gt;Mengakhiri masa tugas yang berlalu penuh suka dan duka&lt;br /&gt;Ingin kusampaikan pesan bersayap tanda agar kau mengerti&lt;br /&gt;Bahwa lima abad kepemimpinan di negeri ini tak sedetikpun&lt;br /&gt;Terlampaui tanpa haru biru. Centang prenang berbagai persoalan&lt;br /&gt;Selesai anlogika, bahkan virus logika jungkir balik telah mewabah&lt;br /&gt;Merasuk kesegenap pembuluh darah&lt;br /&gt;Wahai rakyatku,&lt;br /&gt;Masa-masa saling ingat mengingatkan telah kusulap &lt;br /&gt;Parade para beo&lt;br /&gt;Barisan bebek&lt;br /&gt;Konvoi kambing congek&lt;br /&gt;Wek wek wek&lt;br /&gt;Wek wek wek&lt;br /&gt;Wek wek wek&lt;br /&gt;Prosesi sarat kehidupan para pengawal demokrasi&lt;br /&gt;Berubah sepasukan robot tanpa hati&lt;br /&gt;Remote dipegang para saudagar yang duduk ongkang ongkang&lt;br /&gt;Hari-harinya menghitung laba bagai sang baba&lt;br /&gt;Tanpa bekerja selain merampok uang negara&lt;br /&gt;Nyanyian petani&lt;br /&gt;Dendang buruh&lt;br /&gt;Serenada mahasiswa&lt;br /&gt;Semuanya mati suri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- yang tinggal hanya segelintir, ya segelintir saja -&lt;br /&gt;Kangkungkang serambi dik&lt;br /&gt;Aksi kang tunggu dulu dik&lt;br /&gt;Kangkungkang serambi dik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 1991&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah suasana puisi-puisi kontekstual yang digambarkan Dimas Agoes Pelaz, mendekati masa akhir kekuasaan Orde Baru. Puisi tersebut seperti hendak menjelaskan teks parlementariat sastra atau sastra jalanan yang belum tervisualisasi dalam bentuk verbal sebuah gerakan massa atau gerumunan aksi jalanan. Perlawanan lebih banyak dilakukan dalam bentuk wacana dan diskusi kritis, di kalangan seniman atau sastrawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegetiran tersebut tidaklah sesuatu yang fragmented tetapi ada hal yang strategis diperjuangkan. Seperti kegelisahan akan sentiment-sentimen ideologis sebuah gerakan, yang secara komunal ikut menginspirasi perlawanan teks karya sastra. Hal ini seperti potret akhir siklus revolusi anti imperialis, yang kemudian dijadikan oleh kaum kiri menjadi gerakan bersama melawan neo-liberalis. Kontestasi sastra muncul dalam kejutan-kejutan tragis, memprioritaskan ruang ruang kebebasan untuk membangun aliansi teks yang lebih lebar dengan pilihan kata begitu selebrasi dan provokatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Indonesia 50 tahun lalu, kita dapat menyiapakan portofolio perjalanan politik dan sistem demokrasi kita pasca Dekrit 5 Juli tahun 1959 lalu, setelah Presiden Soekarno mengubur sistem parlementarian atau demokrasi parlementer, ke sistem presidential dengan Demokrasi Terpimpin. Yang kemudian dirubah lagi menjadi Demokrasi Pancasila oleh Soeharto. Nah, hari ini, 50 tahun lalu, setelah melewati frasa reformasi, demokrasi kita justeru direbut oleh elit oligarki. Hanya mempertemukan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang bersifat individual, pragmatis, bahkan oportunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50 tahun lalu, tragedi dan kegetiran menjadi luka sejarah yang tak pernah mau sembuh. Kebodohan dan kemiskinan masih menyelimuti jutaan orang. Bagaimana mungkin karya-karya sastra akan menyepakati sebuah Indonesia, ketika berganti pemimpin luka-luka tersebut tak juga berakhir. Bahkan menjadi alat kampanye politik untuk merebut simpati rakyat. Dan lihatlah hasil pemilu yang menghabiskan trilyunan uang negara. Tidak lebih sebatas prosesi politik dan bagi-bagi kekuasaan para elit di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Neo Orba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca reformasi, setelah robohnya pemerintahan Orde Baru, kita mengalami kegamangan memilih sikap bersastra. Isu-isu demokrasi dan desentralisasi masa euphoria tersebut hanya berhasil mengkontestasi karya sastra sebagai luapan dendam dan kemarahan yang bertulang-ulang terhadap rezim Soeharto. Semua orang marah. Semua orang tiba-tiba menjadi pemberani dan heroik. Semua orang berteriak tentang konstitusi, amandemen berbagai aturan pemerintahan dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia betul-betul kebingungan mengenali kembali dirinya di tengah kejutan-kejutan heroik tersebut. Hiruk pikuk situasi politik dengan tumbuhnya puluhan partai dalam sekejap membelah menjadi pribadi-pribadi yang gamang. Jutaan orang panik. Mereka bingung mencari ibu dan bapak bangsa yang sebenar-benarnya. Selalu saja dibohongi. Selalu saja ditipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan skeptis tersebut sebagai fakta dari rentetan peristiwa yang telah dan sedang berlangsung hingga saat ini. Saya teringat Dimas Agoes Pelaz ketika kami bersama-sama berteriak dari rumah susun lantai 2 Blok 36, beberapa waktu silam, sebelum Orba dan Soeharto turun tahta. Saya, Dimas dan kawan-kawan lainnya seperti orang gila. Kami berteriak dan memukul-mukul dinding batako, menulis sajak, menulis apa saja, sebagai kegelisahan atas ketertindasan kami oleh sistem kekuasaan otoriter tersebut. Terus berteriak, hingga lapar dan kemiskinan sudah tak kami rasakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kemiskinan tidak membuat bodoh. Kemiskinan menjadi inspirasi melahirkan karya-karya tulisan yang menggugat, melawan rezim kekuasaan. Beruntunglah masa itu kami tidak ikut diculik militer. Sehingga tidak ikut-ikutan, seperti mereka sekarang ini, merapat ke lingkaran kekuasaan. Apakah kita masih setia berjaga di garis pinggiran. Garis yang selalu diyakini lebih tepat untuk berjaga dan mengawasi Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50 tahun usia Dimas. Kita mulai menghitung kalender di ruang kerja. Setiap hari. Mengapa banyak kawan tiba-tiba meragukan Indonesia sekarang ini. Meragukan pemimpin sekarang ini. Era telah berubah. Presiden dan parlemen dipilih langsung oleh rakyat. Memang ada perubahan dalam konteks reformasi politik. Tetapi dari struktur geo-politik dan kebijakan ekonomi, Indonesia masih setia menjadi boneka-boneka neo liberalisme, yang menjalankan kepentingan global AS. Persis seperti Soeharto yang selalu melayani resep IMF dan World Bank. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin terpilih pada pemilu lalu, seperti ingin menjelmakan kembali praktek Orde Baru dalam latar Indonesia, yang sudah relatif berubah menjadi negara liberal. Mereka beranggapan ekonomi akan optimal, jika dan hanya jika lalu-lintas barang atau jasa atau modal tidak dikontrol oleh regulasi apapun. Optimalisasi itu hanya akan terjadi bila digerakkan oleh konsep&lt;i&gt; ’Homo Economics’&lt;/i&gt;, yaitu barang atau jasa atau modal dimiliki dan dikuasai oleh orang-perorang yang akan menggerakkannya untuk tujuan akumulasi laba pribadi sebesar-besarnya, sehingga &lt;i&gt;”Private Property” &lt;/i&gt;pun menjadi absolut tanpa tanggung-jawab peran sosial apapun juga termasuk negara. Dan keserakahan pun dimaklumkan sebagai sesuatu yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orde Baru dan Neo Orde Baru nyaris sama saja, keduanya menggerakkan kebijakan privatisasi dan penjualan aset sektor pelayanan publik kepada swasta. Sektor-sektor publik seperti yang ditangani pemerintah lewat BUMN-BUMN pun diserahkan sepenuhnya kepada kekuasaan pasar. Negara tidak untuk menjamin kesejahteraan umum, memberikan bantuan kepada mereka yang tidak produktif dengan alasan apa pun. Mereka melakukan pemotongan subsidi. Juga beban pengeluaran sosial dan tunjangan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “Gado-Gado 50 Tahun” Dimas Agus Pelaz, merupakan serpihan peristiwa yang dijalaninya dari Orba hingga menuju Neo Orba. Mungkin ada renungan lebih reflektif untuk melahirkan karya-karya baru, sebagaimana ketika saya mengenal profil lelaki asal Muntilan ini, selama belasan tahun di Palembang, hingga bermigrasi ke kota Jambi sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, kita semakin tua. Hanya beberapa lembar portofolio yang mungkin sempat dicatatkan dalam perjalanan dan perjuangan hidup. Portofolio tersebut kelak bisa membuat kita tertawa atau menangis. Menulis kekalahan dan kemenangan. Atau bisa saja menjadi pemuas hati untuk melepaskan romantisme waktu, dan kegenitan masa lalu. Atau jadi syair kematian dalam sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak malu dibilang berkontemplasi, maka setengah abad adalah waktu yang cukup bagi semua orang melihat dirinya, menjaga dirinya, menjaga persahabatan, keluarga dan lingkungan hidup sekitarnya. Karena sudah tak ada waktu lagi kita untuk segera menandai identitas siapa kita. Mengumpulkan kembali penandaan yang berserakan. Atas nama identitas, &lt;i&gt;“in the name of identity.”&lt;/i&gt; Dan bagimu, saya tuliskan sebuah narasi pendek: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;bagimu sahabat, ketika kedukaan itu bukan lagi tangisan. &lt;br /&gt;kita bersiap pergi, tidak dgn airmata. tidak dgn luka. &lt;br /&gt;tidak atas nama kekalahan atau kemenangan. &lt;br /&gt;kita pergi bersama janji yang melahirkan kita!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiling, Bandar Lampung, 25 Juli 2009.&lt;br /&gt;: artikel ini disumbangkan untuk buku "Gado-Gado 50 Tahun" Dimas Agoes Pelaz&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=318910&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=116469266568&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=116469266568&amp;amp;id=1623175965"&gt;&lt;img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs159.snc1/5935_1128663549787_1623175965_318910_1695993_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-3642462782953713673?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/3642462782953713673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=3642462782953713673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/3642462782953713673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/3642462782953713673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2010/03/portofolio.html' title='Portofolio'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-6265157715981227351</id><published>2010-03-07T05:29:00.000-08:00</published><updated>2010-03-07T05:29:34.899-08:00</updated><title type='text'>Kundera dan Walesa</title><content type='html'>Kundera dan Walesa&lt;br /&gt;By Conie Sema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Udara pesisir danau Hakone tidak begitu dingin dari hari sebelumnya. Aku beberapa kali menyobek buku catatanku sore itu. "Ini waralaba terbesar di negeri Sakura," kata Joe mengajakku masuk ke supermarket "&lt;i&gt;7 Eleven&lt;/i&gt;", yang penuh dengan beragam dagangan itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin di sini, kita bisa sedikit melapisi tubuh kita dari udara dingin danau ini." Joe melepaskan mantelnya, saat kami hendak menuju kapal wisata yang akan mengajak kami menyusuri danau Hakone menuju Kawaguchi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan di atas kapal wisata itu, Joe membaca sebuah novel karya Milan Kundera. Abu rokoknya sesekali terbang ke arah mukaku. Ia begitu asik menikmati sigaret di ruang khusus perokok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kundera tidak seluas pandang dari sejarah politik Ceko,” katanya sambil melipat selembar halaman novel itu, menandai batas bacaannya. “Aku melihat kisah kehidupan Kundera tak ubahnya seperti Lech Walesa di Polandia,” tambahnya, sembari menawarkan rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik sebatang rokok Joe. Joe lalu menyodorkan api gasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Both are part of a man of giant capitalism!&lt;/i&gt;” ucapnya dengan nada agak keras.&lt;br /&gt;“Apa karena keduanya mendapat anugerah Nobel?” pancingku.&lt;br /&gt;“Tidak cuma itu. Pada masa Ceko dikuasai Komunis Rusia, Kundera lari meninggalkan Praha menuju Paris. Ia ditampung menjadi dosen di salah satu universitas di Prancis. Sebagai desiden, Kundera banyak menulis esai dan novel yang menyerang penguasa komunis di Ceko. Beberapa waktu kemudian ia dianugerahi penghargaan Nobel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak begitu serius, aku berusaha tetap mendengar cerita Joe, sembari mataku sesekali melihat panorama danau yang bersih. Sangat indah dan romantis. Sungguh sangat kontradiktif suasana danau Hakone dengan topik cerita Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum satu bulan aku mengenal lelaki muda dan ganteng itu. Joe dikenalkan seorang kawan ketika mengikuti sebuah pertemuan di Tokyo. Sejak awal kenal Joe selalu bercerita persoalan sosialis-komunis dengan kapiltalisme Amerika. Ia terkesan anti kapitalis. Anti AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara, Walesa, juga mendapat Nobel karena membela buruh dalam cengkeraman pemerintahan komunis Polandia,” tambah Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak begitu paham biografi Kundera. Aku hanya mengenalnya lewat sejumlah novel dan esai yang sudah diterjemahkan dan dicetak di Indonesia. Tetapi, untuk Lech Walesa, aku menganggapnya sebagai tokoh penting di Eropa Tengah yang berhasil meruntuhkan pilar-pilar komunis di Eropa. Termasuk bubarnya Pakta Warsawa. Aku pun tak mau terburu-buru menyimpulkan bahwa para penerima Nobel adalah musuh komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatanku, Lech Walesa menjadi simbol demokratisasi di Polandia melalui gerakan solidaritas buruh Polandia (&lt;i&gt;Solidarnos&lt;/i&gt;). Walesa terpilih jadi presiden 1990, Polandia bergabung ke NATO (AS dan sekutunya), diikuti negara Blok Timur lainnya seperti, Romania, Hungaria, Republik Ceko, Kroasia dll. Uni Soviet bubar! Tahun 1991, Pakta Warsawa yang dirancang Nikita Khrushchev 1955, juga resmi dibubarkan pd pertemuan di Praha. Blok Komunis sebagai musuh abadi AS berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi jelas, Walesa dan Kundera adalah, &lt;i&gt;dolls kapitalism the United States and associate kapitalism!&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;“Apa hanya sebatas itu kamu melihat keduanya?” sindirku kepada Joe.&lt;br /&gt;“Ini bukan sekedar persoalan ideologi dan politik, kawan. Tapi juga ekonomi. Apa yang dilakukan negara kapitalis tersebut muaranya ke persoalan bisnis dan keuntungan ekonomi. Kendaraannya liberalisme baru dengan agenda pasar bebas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, kalau yang satu ini aku sepakat," ujarku kepada Joe. Pasca berakhirnya perang dingin terutama di jazirah Eropa Tengah, AS dan sekutu menata ulang kerjasama bilateral dengan berbagai negara di Eropa. Mesin demokrasi yang menjadi kendaraan Nato, untuk ekspanti ekonomi Neoliberalismenya melalui perdagangan pasar bebas merambah ke benua Asia. Globalisasi ekonomi ini dijustifikasi melalui konvensi-konvensi yang mengikat negara khususnya, negara ketiga di Asia, seperti Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai konvensi perdagangan, misalnya mekanisme produk ekspor dan impor. Pemerintah Indonesia mulai mengurangi bahkan menghapus bea masuk berbagai produk dari luar. Ironisnya, Indonesia tidak bisa menolak masuknya produk-produk luar, yang menyangkut kebutuhan pokok masyarakat seperti, beras, gula, gandum, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kesimpulannya, isu-isu demokrasi yang menjadi dagangan negara kapitalis tersebut harus dicermati. Atau dikritisi? Seperti di negaramu. Hitung saja berapa banyak kekayaan negerimu yang mereka kuasai. Berapa banyak kebijakan negara yang membuka peluang negara asing tersebut lebih merajalela menguasai perekonomian negaramu..hehehehe!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab. Aku meminta sebatang rokok dari Joe. Aku hisap dalam-dalam asap dan candunya. Begitu pun Joe. Ia kembali menghidupkan rokoknya. Kami lalu berjalan ke arah pagar batas kapal wisata itu. Memandang lepas mengitari Hakone Lake. Aku melamunkan isu-isu futurologi Attali, tentang "Pasar Kesembilan". Sebagaimana ramalan Attali, pada era Pasar Kesembilan nanti, isu demokrasi sebagai produk kapitalisme, sudah tidak populer lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;See this packet of cigarettes?&lt;/i&gt;” bisik Joe merapat ke telingaku.&lt;br /&gt;Aku menoleh ke Joe. beberapa detik kami saling pandang.&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;We are enjoying one of the products capitalists..&lt;/i&gt;” kami berdua hanya tersenyum. "Ya. Kita tengah menikmati produk kapitalis!" sambutku membekap tawa. Menahan ketidakpatutan dari pengandaian Kundera dan Walesa. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-6265157715981227351?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/6265157715981227351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=6265157715981227351' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6265157715981227351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6265157715981227351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2010/03/kundera-dan-walesa.html' title='Kundera dan Walesa'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-5351989349434018720</id><published>2009-07-05T07:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T13:22:38.038-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Shibuya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SlELhFOGJhI/AAAAAAAAANE/lMrivDq3Hp0/s1600-h/conie+vote3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 84px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SlELhFOGJhI/AAAAAAAAANE/lMrivDq3Hp0/s200/conie+vote3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355074094885119506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Conie Sema&lt;br /&gt;Laberto Chan, beberapa kali menghembuskan rokok kreteknya, di pojok halaman sebuah mall di Shibuya. “Ini lokasi surga,” bisiknya pelan ke telingaku. Smoking Area, Please! Teriaknya sambil setengah mengacungkan tangan. "Tobacco a gift from the Creator..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laberto mengaku warga Hongkong. Aku kenal dia, dari sahabatku Johan, warga Malaysia. Laberto perokok berat. Makanya dia cepat akrab denganku. Kami merasa seperjuangan, sama-sama berjuang mencari area kebebasan. Kebebasan bisa sepuas hati menikmati candu rokok, dalam kelembaban udara Tokyo. “Salam bagi Meiji Sang Agung!” begitulah kalimat yang selalu diulang-ulang Laberto, acap kali bertemu wilayah surganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku dan mungkin juga bagi Laberto, kebebasan dapat muncul seketika ketika kami berada di luar wilayah yang serba mengatur dan serba melarang. Di negaranya sendiri, Hongkong, merokok di area larangan didenda cukup besar. Di wilayah publik seperti bandara Kwo Lon, merokok didenda 5.000 $ HK! Jadi pantaslah ketika ketemu wilayah bebas merokok, Laberto menganalogikannya sebuah kebebasan. Setidaknya selamat dan bebas dari denda serta ancaman hukuman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia merasa bebas ketika lepas dari ancaman?” kataku menyindir Laberto, sembari mengeluarkan rokok yang sengaja aku bawa dari negeriku. Laberto tersenyum. “Di sini mereka membangun dan memelihara budaya, bukan politik demokrasi seperti di negaramu,” tanggapnya. “Indonesia persis negeriku Hongkong. “Kami baru saja melepaskan diri dari imperialisme Inggris. Begitu pun negerimu, baru saja merdeka dari jajahan Rezim Soeharto.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, wajar saja. Setiap pojok orang selalu bicara kebebasan dan demokrasi,” lanjutnya. “Hingga persoalan area merokok pun, diibaratkan tanah surga, atau bagian dari bentuk-bentuk ritual kebebasan rakyat, khususnya para perokok..hahaha!” Dan itu potret prilaku warga yang berada dalam era transisi politik maupun budaya, tambahnya. “Makanya kita harus banyak memaklumkan jika sering menemukan perilaku-perilaku aneh di masyarakat, seperti juga di negaraku. Perilaku para elitnya, juga tidak beda. Pokoknya serba aneh-aneh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali menghisap rokokku. Perkataan Laberto mengingatkan aku pada hiruk pikuk pemilu di tanah air. Betul. Banyak sekali kita menemukan perilaku aneh-aneh bahkan lucu-lucu, baik dari rakyat yang bertarung merebut kursi parlemen, juga elit-elit partai politik yang Juli nanti berebut kekuasaan melalui pemilu presiden. Menjadi tontonan serba lengkap. Dari drama komedi, horor, percintaan, dan cerita hero atau pesilat. Tontonan serba lengkap ini disajikan setiap hari, mulai dari televisi, koran, dan media Online. Para pemainnya bermacam rupa. Ada yang terlihat beringasan. Ada yang bersahaja. Ada yang jaga image. Ada yang bergaya oposisi. Ada juga terlihat panik, atau panik beneran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah tontonan itu, ada kata yang sangat populer mereka sebutkan yakni: Koalisi. Tukang becak, buru bangunan, pedagang ikan dan pedagang sayur di pasar, sangat lafal mengucapkan kata "Koalisi". Selain itu, ada gejalah baru lagi, nama para elit diucapkan dan ditulis dengan singkatan atau initial misalnya: SBY, JK, WR, HT, AT, SB, TK, BD, SM, PB, Mega, AB, SDA, HNW, SH, dan lain-lain.&lt;br /&gt;“Beginikah potret perilaku orang-orang di era transisi,” tanyaku dalam hati, sambil menoleh ratusan bahkan ribuan orang yang setiap hari menyeberang di perempatan jalan Shibuya. “Apakah di negara lain, proses transisi menuju demokrasi sejati, dimulai dengan potret lucu dan aneh-aneh seperti itu?” tanyaku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sempat menambah pertanyaan lagi, ketika Laberto menarik tanganku mengajak melanjutkan perjalanan menuju kereta JR Metro, di stasion Shibuya. “Kita tinggalkan tanah surga,” bisikku ke Laberto. "Tobacco a gift from the Creator..!" Kami berdua serentak tertawa. Tertawa-tawa dalam kerumunan orang-orang di penyeberangan jalan -- yang diklaim teramai di dunia itu. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-5351989349434018720?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/5351989349434018720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=5351989349434018720' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/5351989349434018720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/5351989349434018720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2009/07/sketsa-budaya.html' title='Sketsa Shibuya'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SlELhFOGJhI/AAAAAAAAANE/lMrivDq3Hp0/s72-c/conie+vote3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-3782481775089534093</id><published>2009-05-30T16:17:00.001-07:00</published><updated>2009-07-06T11:18:31.373-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Kowloon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SlI_4zfkPSI/AAAAAAAAANU/X57SDgqu_rE/s1600-h/P1000871.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SlI_4zfkPSI/AAAAAAAAANU/X57SDgqu_rE/s200/P1000871.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355413152024771874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Conie Sema -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kedinginan 13 derajat Celsius itu, aku melihat Resya tak ubahnya sebagai manusia baru yang mengenali kembali riwayat negerinya Indonesia. Henry hanya tersenyum melihat tubuhku menggigil menggulung udara dingin, pagi itu di Kowloon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kenal Henry delapan tahun lalu, di sebuah seminar di Jakarta. Dua tahun kemudian kami bertemu lagi di Bangkok. Resya sendiri teman kuliah, sudah lama menetap di Pulau Hongkong sejak bersuamikan warga negara Hongkong. Ia bekerja di sebuah perusahaan jasa wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasca rejim otoriter runtuh, Indonesia terlihat membelok arah dari transisi demokrasi ke transisi menuju neoliberalisme dan demokrasi pasar. Lihatlah! negara mulai diatur kekuasaan oligarki pasar...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu meluncur dari mulut Resya, menyelah percakapanku dengan Henry Tang, kawan diskusi selama dua pekan liburan di Tsim Sha Tsui East, Kowloon, Hongkong. Aku dan Henry baru saja membahas sejarah pelaut Portugis Jorge Alvares, yang menjadi orang Eropa pertama mengunjungi Hongkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demokrasi yang berpihak kepada rakyat, memang jalan panjang,” tanggap Henry. “Ia tak selalu memenangkan kekuasaan rakyat..” tambah kepada Resya. Ungkapan Henry, mengganggu pikiranku atas kondisi demokratisasi Indonesia. Aku agak sedikit bingung membicarakan negeriku, dari pulau kecil yang lama dikuasai Britania Raya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hongkong yang memiliki salah satu pelabuhan terbesar di dunia itu, sebetulnya sudah lebih maju mengenal sistem perdagangan dan jasa lintas negara. Sejak era perdagangan kapitalisme Portugis ke era ekonomi liberalisme, hingga neoliberalisme sekarang ini. Mereka tentu lebih dulu memahami sistim perdagangan pasar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi pasar bebas mulai bergulir awal berkuasa Ronald Regan di AS, dan Margaret Thatcher PM Inggris tahun 1980 lalu. Keduanya menggerakkan kebijakan privatisasi dan penjualan aset sektor pelayanan publik kepada swasta. Sektor-sektor publik seperti yang ditangani pemerintah lewat BUMN-BUMN pun diserahkan sepenuhnya kepada kekuasaan pasar. Keduanya menganggap negara tidak untuk menjamin kesejahteraan umum, memberikan bantuan kepada mereka yang tidak produktif dengan alasan apa pun. Mereka melakukan pemotongan subsidi. Juga beban pengeluaran sosial dan tunjangan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tindakan mereka itu, para analis percaya bahwa kedua tokoh itulah yang menjadi pelopor bergesernya kebijakan ekonomi ordo liberalisme klasik menjadi ordo neo-liberalisme di Eropa dan Amerika. Kebijakan ini kemudian ditiru oleh negara-negara lainnya tak terkecuali negara-negara Asia. Sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia setelah melihat success story ”macan-macan ekonomi Asia” seperti Singapura, Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan serta didorong oleh rasa frustasi dengan fakta sedikitnya hasil yang diperoleh dari kebijakan ekonomi tertutup dan subtitusi impor, maka mereka mulai membuka pasar domestiknya dan mempraktekkan kapitalisme pasar bebas. Perubahan itu juga ditandai dengan dijualnya perusahaan-perusahaan negara kepada swasta, pasar bebas dan penghapusan subsidi kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutif artikel Wandy Variyawan, asumsi neoliberalisme adalah bahwa pertumbuhan ekonomi akan optimal, jika dan hanya jika lalu-lintas barang atau jasa atau modal tidak dikontrol oleh regulasi apapun. Optimalisasi itu hanya akan terjadi bila digerakkan oleh konsep ’Homo Economics’, yaitu barang atau jasa atau modal dimiliki dan dikuasai oleh orang-perorang yang akan menggerakkannya untuk tujuan akumulasi laba pribadi sebesar-besarnya, sehingga ”Private Property” pun menjadi absolut tanpa tanggung-jawab peran sosial apapun juga termasuk negara. Dan keserakahan pun dimaklumkan sebagai sesuatu yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebenarnya mengubah kebijakan ekonomi walfare state ke ekonomi neo-liberalisme hanyalah mengembalikan semangat ajaran kapitalisme murni seperti pada awal masa revolusi industri di Inggris. Bagi mereka kebebasan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah, akan membawa kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Henry, ketika di Bangkok, pernah mendiskusikan siasati negara neolib masuk ke negara berkembang. Mereka menggerakkan mesin-mesin neoliberalisme; IMF, Word Bank, CGI, Paris Club dan sebagainya. Metodenya tiga tahap: privatisasi, liberalisasi, dan pasar bebas. Kemudinya digerakkan WTO, negara-negara kapitalis mempromosikan atau lebih tepatnya memaksakan privatisasi, liberalisasi dan pasar bebas kepada negara-negara lain. Metode yang mereka pakai guna melegalkan ketiga kebijakan di atas antara lain dengan investasi asing, demokratisasi, tekanan ekonomi, tekanan politik, utang luar negeri sampai tekanan militer. Seperti yang dilakukan terhadap Afghanistan dan Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat diterima ungkapan Henry bahwa demokrasi tak selalu memenangkan kekuasaan rakyat. Tak jarang demokrasi hanya menghasilkan penguasa lama yang berseragam baru dan kehidupan politik tetap berjalan muram. Bahkan demokrasi tak jarang 'memangsa' aktivisnya dalam jaring para bandit sekaligus menjerumuskan para pejuangnya dalam dosa sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kekuatiran Resya atas ancaman demokrasi pro pasar di Indonesia tersebut, bukanlah kekuatiran yang tidak beralasan,” kata Henry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul!” sambut Resya semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan bersama Henry Tang dan Resya itu, seakan mengulangi kembali cerita awal Henry tentang Hongkong. Sejak masuknya pelaut Portugal Jorge Alvares tahun 1513, Perang Opium Kedua, di Semenanjung Kowloon, atau coretan kecil perjalanan dari zaman Neolitikum hingga Neoliberalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog sejarah zigzag itu, membuat kami tertawa sembari melambaikan tangan ke arah kapal Star Ferry yang menyeberangi Victoria Harbour. Kami melihat di buritan kapal ada bendera kecil kelompok New World Group. Mereka membangun tempat pejalan kaki sepanjang tepi laut di sekitar New World Centre di kampung Henry, Tsim Sha Tsui East, Kowloon. "Lima tahun lalu mereka telah membelanjakan sekitar HK $40 juta, untuk membangun Avenue of Stars, sebuah proyek swasta yang didukung penuh pemerintah," ujar Henry. (*)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-3782481775089534093?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/3782481775089534093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=3782481775089534093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/3782481775089534093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/3782481775089534093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2009/05/sketsa-kowloon.html' title='Sketsa Kowloon'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SlI_4zfkPSI/AAAAAAAAANU/X57SDgqu_rE/s72-c/P1000871.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-8107118099893911065</id><published>2009-02-02T07:59:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T18:19:44.489-08:00</updated><title type='text'>Facebook | Paulo Freire</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1578623425#/pages/Paulo-Freire/16420632220"&gt;Facebook | Paulo Freire&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-8107118099893911065?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/8107118099893911065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=8107118099893911065' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/8107118099893911065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/8107118099893911065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2009/02/facebook-paulo-freire.html' title='Facebook | Paulo Freire'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-6117984662302315739</id><published>2008-12-19T02:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T02:33:46.918-08:00</updated><title type='text'>Peran Pers Mewujudkan Demokrasi*)</title><content type='html'>Oleh CONIE SEMA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prolog: Sejak lama Amerika Serikat selalu menyatakan kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat. Paham ini menjadi ‘barang jualan’ AS setiap kali menjual paham demokrasi dan kapitalisme. Namun, kenyataan yang terjadi jauh dari teori yang selama ini mereka tawarkan untuk meninabobokan pengikut paham kebebasan bersuara ala AS. Sejak lama negara tersebut menggunakan media sebagai senjata untuk menipu rakyat dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku bercudul: Mesin Penindas Pers: Membongkar Mitos Kebebasan Pers di Amerika, yang merupakan kesaksian sejumlah wartawan top Amerika peraih penghargaan korban pemberangusan sistematis, yang dieditori Kristina Borjesson (2006), bisa ditemukan perjalanan upaya penindasan pers yang dilakukan secara sadar, terencana, dan sistematis oleh pemerintah AS melalui sistem di media besar di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contohnya adalah saat jaringan televisi CBS enggan menayangkan sebuah laporan tentang bagaimana industri rokok Amerika memakai zat kimia untuk meningkatkan kecanduan perokok. Bahkan, televisi CNN, yang berhasil mensejajarkan diri dengan jaringan televisi raksasa lain pasca peliputan perang Irak-Kuwait, akhirnya tak kuasa untuk menelikung pemberitaannya agar menguntungkan AS. Untuk mempertahankan hegemoninya, banyak praktik kotor yang harus dilakukan pemerintah AS. Tak hanya berkubang dalam industri obat bius, tapi juga pelanggaran hak asasi manusia setiap kali terjadi kudeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukilan buku tersebut merupakan analogis, bagaimana sebuah sistem kekuasaan menguasai opini publik melalui media massa. Fenomena tersebut juga dialami banyak media massa terutama yang menginginkan masyarakat dan sistem demokrasi yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia pasca kekuasaan otoriter Soeharto, memasuki fase baru demokrasi. Masa transisi demokrasi ini, mengambil peran besar sebagai agen perubahan untuk mewujudkan demokrasi sejati. Pers yang disebut-sebut sebagai pilar atau institusi keeempat demokrasi (setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif), diharapkan mampu mendorong proses demokratisasi, baik melalui mekanisme formal maupun mekanisme struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme formal yakni melalui, lembaga politik, perangkat undang-undang, dan hukum yang yang demokratis. Sedangkan mekanisme struktural diciptakan dari perimbangan kekuasaan antara masyarakat dan pemerintah yang sedang diuji dan diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak melebar ruang diskusi kita soal demokrasi ini, kita coba memetakan beberapa pokok bahan diskusi berkaitan dengan agenda demokrasi yang tengah berlangsung di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pemetaan Posisi Pers dan Lembaga Politik .&lt;br /&gt;   2. Independensi Pers dan Gerakan Demokrasi.&lt;br /&gt;   3. Agenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga topik tersebut kita ambil studi kasus peristiwa politik,yakni pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang sudah berlangsung di seluruh daerah di tanah air. Artinya peristiwa politik tersebut menjadi bahan kajian kita bersama, sejauh mana posisi pers mendorong instrumen-instrumen demokrasi yang terlibat dalam proses pemilu daerah tersebut. Serta sejauhmana independensi pers itu sendiri untuk menjadi inspirasi terdepan memberikan pendidikan politik masyarakat sehingga mampu berpikir rasional. Terutama ketika harus menentukan pilihannya pada calon-calon kepala daerah. Hal tersebut selain upaya mewujudkan kehidupan demokrasi yang lebih baik, dan usaha terpilihnya para pengelola pemerintahan di daerah yang lebih baik dan kredibel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim semi pilkada tersebut, dapat kita eksplor dalam diskusi ini, sejauhmana peran pers khususnya media massa di daerah, ketika berhadapan dengan kandidat bersama partai politik pendukungnya, baik dalam konteks independensi, dan sebagai kontrol sosial terhadap institusi demokrasi seperti KPU Daerah, Ormas, Ornop, dan lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tolak ukur kita untuk mengetahui sejauhmana peran pers dalam proses politik pilkada tersebut, terutama mendorong kualitas hak-hak institusi demokrasi dalam segala tingkatan politik masyarakat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Penyelenggaraan pemilu yang bebas dan jujur, serta mekanisme pemilihan yang transparan.&lt;br /&gt;   2. Sikap partai terhadap berbagai isu dan kepentingan vital di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;   3. Independensi partai-partai terhadap praktek politik uang, serta kepentingan  etnis dan agama.&lt;br /&gt;   4. Kemampuan partai untuk membentuk dan menjalankan pemerintahan.&lt;br /&gt;   5. Kinerja lembaga independen dan perangkat demokrasi lainnya untuk mendorong representasi rakyat, mewujudkan pemerintahan bersih dari korupsi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai riset yang dilakukan lembaga kajian demokrasi seperti Demos menunjukkan kinerja institusi demokrasi tersebut masih buruk. Peristiwa transisi demokrasi malah memunculkan banyak para elit oligarki, dari tiga poros; pejabat, pengusaha, dan preman. Hal ini lebih banyak terjadi pada gerakan demokrasi di tingkat lokal. Demokrasi seakan telah dibajak kekuatan oligarki tersebut. Partai-partai politik pun sudah sebagain besar “dibeli” para pengusaha. Mereka juga membentuk organ-organ paramiliter, untuk pengamanan “alternatif” kiprah mereka di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya masalah di atas akan perkembang dalam diskusi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog: Kebebasan Pers dan Agenda Demokrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pers pasca reformasi sebetulnya mulai terbuka. Munculnya undang-undang Nomor 40 tentang Pers, sudah ada ruang terbuka yang memungkinkan pelaku pers lebih berperan aktif mendukung proses demokrasi di Indonesia. Dalam konteks itu adalah wajar, jika kita bertanya atau istilah bekennya menggugat sejauhmana peran pers atau media massa, baik cetak dan elekteronik, serta media on line, mendukung agenda-agenda demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar pers di Jakarta beberapa waktu lalu, Toshiyuki Sato, dari Kantor Berita Jepang NHK mengatakan, kebebasan pers memiliki peran sebagai stabilisator dalam masyarakat demokratis. Media yang memiliki peran pengontrol dalam masyarakat bertanggung jawab untuk mengkritik pemerintah yang cenderung koruptif, atau menentang perkembangan demokrasi itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Toshiyuki, dengan peran itu, media massa mampu mendewasakan masyarakat yang dilayaninya. Untuk itu, semakin hari media massa, termasuk wartawannya, harus bersikap imparsial dan independen. Di sisi lain, intervensi pemerintah terhadap media harus diminimalkan. “Untuk itu, media harus selalu terbuka terhadap kritik dan siap bertanggung jawab atas apa yang diliputnya,” lanjut Toshiyuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak agenda-agenda demokrasi yang sedang bergulir saat ini, setidaknya dapat dilihat dua agenda besar: desentralisasi pemerintahan dan desentralisasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desentralisasi pemerintahan sudah membuahkan undang-undang otonomi daerah. Perimbangan kekuasaan pemerintah pusat dan daerah. Di ranah politik, desentralisasi politik masih berjalan lamban, meski sudah begitu banyak dilakukan amandemen undang-undang politik. Secara struktural perubahan menuju demokrasi sudah mulai nampak, meski secara subastansial masih banyak dinilai para pengamat kineraja institusi demokrasi ini masih buruk.  Seperti koreksi terhadap Komisi Pemilihan Umum KPU Pusat dan KPU daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda demokrasi ke depan setelah munculnya kesempatan calon-calon independen dalam revisi undang-undang politik. Juga hendaknya diikuti muncul partai-partai politik local. Karena sistem politik sekarang masih sangat sentralistik ke pusat atau pengurus partai di pusat. Untuk mengganti anggota parlemen di tingkat kabupaten, pengurus daerah harus meminta persetujuan pengurus pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya pers diharapkan mendorong percepatan proses demokrasi tersebut merujuk ke beberapa hal yang menjadi acuan dan kaidah atau nilai demokrasi itu sendiri. Kaidah tersebut menurut Henri B. Mayo:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga. &lt;br /&gt;Dalam setiap masyarakat terdapat perselisihan pendapat serta kepentingan, yang dalam alam demokrasi dianggap wajar untuk diperjuangkan. Perselisihan-perselisihan ini harus dapat diselesaikan melalui perundingan serta dialog terbuka dalam usaha untuk mencapai kompromi, konsensus atau mufakat. Kalau golongan-golongan yang berkepentingan tidak mampu untuk mencapai kompromi, maka ada bahaya bahwa keadaan semacam ini mengundang kekuatan-kekuatan dari luar untuk campur tangan dan memaksakan dengan kekerasan tercapainya kompromi atau mufakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap masyarakat yang memodernisasikan diri terjadi perubahan sosial yang sebabkan oleh berbagai faktor. Pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakannya kepada perubahan-perubahan ini, dan sedapat mungkin membinanya jangan sampai tidak terkendalikan. Sebab kalau hal ini terjadi, ada kemungkinan sistem demokratis tidak dapat berjalan, sehingga timbul system diktatur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergantian atas dasar keturunan, atau dengan jalan mengangkat diri sendiri serta ketiadan pergantian pemimpin dalam jangka waktu tertentu dianggap tidak wajar dalam demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membatasi pemakaian kekerasan sampai tingkat minimum. &lt;br /&gt;Golongan-golongan minoritas yang sedikit banyak kena paksaan akan lebih menerimanya kalau diberi kesempatan untuk turut serta dalam diskusi-diskusi yang terbuka dan kreatif, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman. &lt;br /&gt;Dalam masyarakat yamg tercermin dalam keanekaragaman pendapat, kepentingan serta tingkah laku. Untuk hal ini perlu terselenggaranya suatu masyarakat terbuka serta kebebasan-kebebasan politik yang memungkinkan timbulnya fleksibilitas dan tersedianya alternatif dalam jumlah yang cukup banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menjamin tegaknya keadilan. &lt;br /&gt;Dalam hal ini semua masyarakat mempunyai hak-hak yang sama serta adanya kebebasan berpartisipasi dan beroposisi bagi partai politik, organisasi kemasyarakatan dan perorangan serta prasarana pendapat umum semacam pers dan media massa. (Miriam Budiarjdo, 2003 : 62-63) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, dunia pers juga harus melakukan reposisi peran dalam perjuangannya, dikaitkan dengan paradigma demokrasi Indonesia Baru, yang akan mengakselerasi peningkatan kesejahteraan bangsa kita secara adil dan beradab, dengan berbagai kearifan metodologis yang mampu meningkatkan kualitas kesadaran motivasi masyarakat untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya secara mandiri, tanpa kehilangan citra dan jatidirinya sebagai bangsa yang relijius dan berbudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih (clean government) dan kepemerintahan yang baik (good government), dikaitkan dengan paradigma otonomi daerah (Otda), peran pers semakin strategis dalam membangun budaya dialogis, sebagai modal dasar terwujudnya masyarakat madani yang demokratis, adil dan beradab. Sehingga, dalam proses aktualisasinya, antara pemerintah dengan masyarakat, terjalin hubungan yang kondusif, dalam arti saling memahami dan saling percaya-mempercayai, tanpa ada unsur kebencian, akan peran dan posisinya masing-masing, dalam rangka membangun kemakmuran negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok. Salam pembebasan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) disampaikan pada kemah jurnalistik di jambi, 20 Desember 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Conie Sema: Wartawan RCTI, aktif dalam kegiatan-kegiatan pro demokrasi, Ketua Studi Pembangunan untuk Demokrasi (SPED) di Lampung, Senat Majelis Prodem Indonesia (2005-2008). Domisili di Lampung: Jalan Imam Bonjol 544-A, Bandar Lampung. HP: 0811722410, Email: conie@indo.net.id, atau www.coniesema.blogspot.com. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-6117984662302315739?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/6117984662302315739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=6117984662302315739' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6117984662302315739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6117984662302315739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/12/peran-pers-mewujudkan-demokrasi.html' title='Peran Pers Mewujudkan Demokrasi*)'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-2073470737310277504</id><published>2008-11-23T12:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T12:56:45.460-08:00</updated><title type='text'>Ikuti Novel Perahu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SSnDb1fNXHI/AAAAAAAAAJ4/BVAtBggXev0/s1600-h/coniiii.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 160px; height: 119px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SSnDb1fNXHI/AAAAAAAAAJ4/BVAtBggXev0/s400/coniiii.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271959721795738738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;IKUTI novel saya berjudul Perahu di www.novelperahu.blogspot.com. Novel ini bersetting Lampung dengan berbagai persoalan sosial dan politiknya. Saya menulis novel, karena saya ingin menulis. Dan saya merasa lucu sehingga saya menulis novel. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-2073470737310277504?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/2073470737310277504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=2073470737310277504' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/2073470737310277504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/2073470737310277504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/11/ikuti-novel-perahu.html' title='Ikuti Novel Perahu'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SSnDb1fNXHI/AAAAAAAAAJ4/BVAtBggXev0/s72-c/coniiii.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-4404081515012555347</id><published>2008-10-17T09:19:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T09:26:01.559-07:00</updated><title type='text'>Mairat Mei</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SP9QcZ6wd7I/AAAAAAAAAIQ/sjOVrL8rezc/s1600-h/edy-firmansyah.blogspot.com.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260011338715920306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" height="347" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SP9QcZ6wd7I/AAAAAAAAAIQ/sjOVrL8rezc/s320/edy-firmansyah.blogspot.com.jpg" width="242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerpen CONIE SEMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JOSE Ortega Gasset berkata, "Man has no nature; what he has is history." Bukankah hakikat manusia justru adalah kesejarahannya? ujar filsuf dari Spanyol itu. Tidak ada kepergian yang sempurna ketika Mei Hwa menjemput persalinan tanpa Rohan, suaminya. Mei menghilang di antara kerumunan benda-benda medis, dokter rumah sakit, apotek, dan klinik di kotanya. Ia paham setiap pagi harus menelepon untuk mengonsulkan keadaan bayi yang akan lahir dari perutnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Hello, is this Graha Medical Hospital?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Yes! Who is speaking?" tanya wanita di telepon itu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Miss Mei Hwa, from Sakai City. May I speak director?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Just a moment, please; I'll see if he is in," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Hello, hello. Is he in?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"I'm sorry, he is going home. He is tired."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"What time will be here?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"He won't be here this day. You'd better call him."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"What is telephone number?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Please dial number one two three four five."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Thank you!" balas Mei meletakkan gagang teleponnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei Hwa tersenyum di atas ranjang rumah sakit. Ia baru saja melahirkan seorang bayi. Mei tidak peduli apakah bayi perempuan atau laki-laki. Paling penting baginya, hari itu ia terbebas dari kepungan benda-benda properti medis rumah sakit. Mei lega.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia bisa berbicara lagi tanpa ketakutan. Mei berharap tidak begitu lama bayinya bisa berdiri, berlari, dan berteriak sesuka hati. Beberapa kali Mei membacakan doa dan terima kasih kepada bapak-ibu, kakek-nenek, dan leluhur sebelumnya. Mereka telah mewariskan kemampuannya, kawin, hamil, dan melahirkan anak. Mei seperti mereka, akan mewariskan itu kepada anaknya. Anak-anak itu akan mengenal struktur tubuh yang terbuka, bahkan bagian tertutup dan terlarang. Menghapal bau tubuh lawan jenisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bermain seks seharian. Lalu bunting dan beranak. Bunting lagi dan beranak sebanyak-banyaknya. Mei yakin secara alamiah, anaknya pun mampu membaca seks. Fasih berbahasa cabul. Menyebut alat kelamin. Bertelanjang di hadapan pasangannya. Serta kewajaran alam lainnya. "Maaf, Dok, ini anakku yang pertama," jelas Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dokter tidak menjawab. Ia mengamati layar USG di atas sebelah kanan kepala Mei yang terlentang di atas ranjang, sembari menggerakkan alat deteksi di atas perut kecil Mei Hwa. "Suamiku sibuk. Ia tak sempat menemani aku kemari."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dokter lalu menarik sedikit ke bawah celana dalam Mei. Matanya berkali-kali melihat ke layar monitor USG. Mei agak risih. Ia ingat kelakuan serupa suaminya ketika masa pacaran. Rohan beberapa kali menarik ke bawah celana dalamnya. Tapi seperti tangan dokter, hanya mencapai batas atas kemaluannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei buru-buru menarik tangan Rohan ketika turun lebih jauh menyisiri kemaluannya. Tak jarang Mei marah-marah dan menghentikan cengkerama cintanya. Kalau sudah seperti itu, wajah Rohan berubah pucat, terlihat tegang. Kadangkala sampai satu minggu mereka tak bertegur sapa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Sebelum kemari, suamiku menelepon. Ia bilang, ada rapat sore di kantornya. Ia akan menjemputku pulang," jelas Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kamu yakin?" tanya dokter sembari menempel dan menggerakkan alat deteksinya di bagian atas kemaluan Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Tidak. Saya ragu rapatnya selesai sore ini," jawab dokter sambil membuang senyum ke suster yang mendampinginya. Suster itu membalas senyuman dokter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kenapa anda menyimpulkan suamiku seperti itu. Sejak pacaran, ia paling tepat janji. Tak pernah mangkir dari apa yang diucapkannya. Ia tak pernah telat mengantar dan menjemputku kuliah. Ia tak mau merepotkan orang lain karena pekerjaannya. Ia pekerja keras. Jujur dan tidak sombong. Ia sangat sayang kepadaku. Itu alasan mengapa aku memilih hidup bersamanya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dokter tidak menanggapi Mei. Ia meninggalkan Mei dan suster, menuju ke meja kerja yang bersebelahan kamar periksa. Di sana, pasien lain sudah menunggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Tidak usah kau bahas kelakuan dokter itu. Mungkin ia punya pengalaman buruk. Saya berharap, kamu lebih betah cek kandungan kamu ke mari. Saya berusaha melayani semua pasien sebaik mungkin," kata dokter itu tersenyum manis, mempromosikan pelayanannya. Mei berhenti bercerita. Ia menunggu apakah dokter itu juga akan menarik celana dalamnya ke bawah. Sudah 10 menit ia memainkan alat deteksinya di atas perut Mei. Mei menduga ia lebih suka menyentuh perutnya yang tipis ketimbang kemaluannya. Mei tidak tahu apakah dokter muda itu telah menikah dan memiliki anak. Apakah terlatih bermain seks. Bertelanjang di hadapan pasangannya. Dan, fasih menyebut alat kelamin pasangannya. Mei menatap wajahnya yang sedari tadi bolak-balik dari menatap perut Mei ke layar monitor USG. Wajah itu begitu polos. Seperti kertas putih yang belum bercoret atau bergambar. Mei mencoba menebak artefak sejarah yang tersembunyi di balik wajah itu. Bola matanya bening. Alisnya rapi dan dirawat baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Begitu damai dan teduh. Mei baru kali ini bertemu anatomi wajah seperti itu. Ia kagum. "Maaf," kata dokter itu, menyingkapkan lebih tinggi baju kaos Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia yakin kali ini tidak salah lagi memilih dokter. Mei menikmati gerakan tangan mungil sang dokter bersama alat deteksi di atas perutnya. Mei begitu percaya dan yakin dokter itu pasti melakukan yang terbaik untuk bayi di kandungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei mencoba mencari bahasa santun untuk mengungkapkan kepuasan atas layanan medis dokter itu. Di benak Mei saat itu, ia akan berulang-ulang kembali lagi ke ruang praktek dokter itu. Ia menginginkan sang dokter pun akan berulang-ulang melakukan hal yang sama di atas perutnya. Tidak ada waktu bagi Mei berlama-lama menjelajah imajinasi seks dan kelahiran bayi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei lahir di Tianjing, di mana seorang dokter menjadi bagian perangkat negara. Mei tidak bisa sesuka hati membangun bahasa-bahasa ibu dan anak. Seperti keinginan Mei memiliki ratusan anak dari setiap orang. Tetapi ia sadar hanya spermatozoa yang membuahi sel telurnya. Mei tidak bisa berharap banyak meski imajinasi seksnya menghendaki bercinta setiap hari dengan dokter itu. Sudah delapan dokter ahli kandungan di kota itu memeriksa Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semuanya melakukan hal yang sama. Sore itu, Mei berangkat ke kota lain. Ia mendapat tugas dari kampusnya, menjadi mentor program pemberdayaan petani. Mei berkesempatan memeriksa kandungan kepada dokter yang ada di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;I am delighted to know you&lt;/i&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;My pleasure, too&lt;/i&gt;," jawab Mei kepada dokternya yang baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;Do you come from this village&lt;/i&gt;?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;No. Ia don't&lt;/i&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;I am sure that you will be very happy here&lt;/i&gt;," tebak dokter itu kepada Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;Of course. I help the village how to practise agricultures&lt;/i&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;Will you call at my house&lt;/i&gt;?" tawar dokter sambil tersenyum lembut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei tersentak. Ia selalu menunggu kalau ada dokter yang memeriksanya menawarkan berkunjung ke rumahnya. Mei berharap dokter berambut pirang yang tengah melaksanakan kewajiban akademik dari kampusnya itu, hanya sendirian menunggu rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei sendiri sudah satu pekan berkunjung ke desa itu, dalam rangka mensosialisasikan program pemberdayaan masyarakat petani dengan pola alih teknologi. Mei begitu bersemangat. Ia tidak akan kesepian. Ia mendapatkan teman baru yang kebetulan dokter kandungan. Mereka bisa saling berkunjung. Seharian menumpahkan perasaan hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;Very pleased to call at your house. But when will be convenient for you&lt;/i&gt;?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;At anything being&lt;/i&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;How about at seven o clock&lt;/i&gt;?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;Fine&lt;/i&gt;!" jawab dokter bersemangat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei masih terpaku menatap dari belakang tubuh yang indah itu berlalu dari tempatnya berdiri. Malam ini ia akan berdua dengan dokter itu. Bercerita panjang sambil makan malam. Bertukar pengalaman hingga larut malam. Entah mengapa ia berharap dapat bercinta dengan dokter itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Udara malam. Bulan bulat penuh. Sinarnya menerobos masuk ke kamar tidur. Sudah enam bulan Mei di kamar itu. Hanya bayi di kandungannya yang sesekali menendang-nendang dinding perutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei tidak tahu kenapa suaminya tidak juga pulang. Tidak menelepon akan menjemputnya dari tempat praktek dokter. Mei melihat tubuh ramping dan putih itu masih terbujur di atas ranjang. Cahaya bulan membentuk bayang siluet di atas tubuh yang tak terbalut selembar benang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hidup begitu meletihkan. Mei melihat wajah teduh dan damai itu tertidur pulas memeluk mimpi. Sudah beberapa dokter terbujur letih di atas ranjang kamar itu. Mei tak pernah mempersoalkan kelaminnya. Mereka orang-orang terpilih. Mei merasakan ada kedamaian dari sentuhan lembut tangan-tangan yang halus itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei tidak lagi memusingkan apakah suaminya akan menelepon atau tak pulang selamanya. Ia tak akan mencari tahu atau meneleponi Rohan. Lelaki itu raib dari rumah enam bulan lalu. Ia hanya pamit menjenguk ibunya. Keluarga suaminya juga mencari keberadaan Rohan. Mereka khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap Rohan. Belakangan keluarganya tak pernah lagi menghubungi Mei, menanyakan apakah Rohan sudah pulang. Mei menyimpulkan Rohan tidak membutuhkan lagi ia dan anaknya. Mei harus bersiap melahirkan bayi tanpa dijaga suaminya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sore itu, matahari pucat. Mei menahan nyeri melingkar dari punggung memencar ke perut bagian depan. Semakin lama semakin nyeri. Di atas ranjang rumah sakit Mei merasakan kontraksi di perutnya. Jarak intervalnya pun semakin pendek. Mei tidak mau mati dalam persalinan. Ia menolak dioperasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dokter-dokter yang sempat singgah di kamar tidurnya, berulang-ulang meyakinkan bahwa ia akan melahirkan normal. Tidak induksi atau tindakan yang menggunakan forsep atau vakum ekstraksi. Dokter-dokter itu rutin memantau perkembangan Mei dan janin di perutnya dengan pemeriksaan fisik, seperti kesadaran, anemia, nadi, tensi, suhu badan, pernapasan, dan sebagainya. Dokter juga melakukan pemeriksaan obstetri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menyentuh perut Mei, merasakan letak janin. Dari layar monitor USG, para dokter melihat dan mengidentifikasi keadaan vagina Mei, tebal &lt;i&gt;cervix&lt;/i&gt;, pembukaan, posisi kepala, dan turunnya presentasi kepala, serta bagian-bagian kecil janin di kandungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak banyak bisa dibaca Mei dari aktivitas dokter-dokter yang pernah memainkan tangan di atas perut hingga bagian atas kemaluannya. Mei belajar mengompromikan etika dengan keharusan medis. Kesepakatan itu entah mengapa muncul secara alamiah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak terpaksa, apalagi dipaksa. Mei tidak menolak. Jika akhirnya dokter meminta dioperasi. Kendati untuk sekarang ini, Mei menolak. Ia tak mau bayinya lahir, ketika ia dalam kondisi tak sadarkan diri karena dibius total. Mei tak mau terlalu lama dipisahkan dari bayinya karena harus masuk ke ruang &lt;i&gt;recovery&lt;/i&gt; usai operasi. Ia ingin melahirkan bayinya, bisa langsung kontak semua orang untuk mengabarkan kebahagiaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Malam itu, hampir satu bungkus rokok habis diisapnya. Seluruh kamar tidur Mei sesak asap nikotin. Sementara tubuh berkulit halus itu masih tertidur pulas di ranjangnya. Lampu kamar tak pernah lagi dihidupkan. Mei dan dokter hanya berharap siraman cahaya bulan di luar sana, menerobos masuk kamarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sudah satu bulan Mei kembali ke rumahnya. Dokter berambut pirang itu ikut bersamanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Mengapa kami kehilangan lelaki?" ujar Mei seolah berbisik dengan purnama mewakili tubuh dokter yang terbujur letih di kamarnya. Sudah puluhan purnama Rohan membiarkan Mei dan bayinya, bersama dokter di kamar itu. Mei menatap dokter yang lelah setelah bercinta sejak sore di kamarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei lalu melihat kembali purnama yang bulat penuh. Ada siluet wajah bayi muncul di sana. Mei membayangkan puncak jeritannya saat bercinta dengan jeritan panjang ketika hendak mengeluarkan bayi dari perutnya. Mei merasakan prosesi seks yang jauh dari kenikmatan ketika melahirkan seorang anak. Semula ia berkali-kali menjerit menahan sakit. Berkali-kali menarik napas dan menahannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika kontraksi semakin pendek intervalnya, Mei membuang kesakitan itu ke wajah sang dokter. Ia membayangkan bercinta dengan dokter itu. Tubuh Mei tergeletak di atas ranjang, terlihat mengejang. Ia bertarung hidup mati menembus lendir bercampur darah yang keluar begitu banyak. Mei menghafalkan lekukan tubuh dokter dengan harapan masih ada kenikmatan dalam prosesi persalinannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Bertahanlah. Tariklah napas dalam-dalam. Sebentar lagi bayimu lahir," kata dokter memberi semangat. Mei tidak menjawab. Dan memang tidak bisa menjawab. Ruang dingin dalam kamar persalinan, menyeka laju keringat dari tubuh orang-orang medis yang menunggu bayi muncul dari vaginanya yang mulai membesar. Mei tersenyum sambil menahan sakit. Ia berusaha menikmati kesakitan itu. Rektum terlihat menonjol. Anusnya pelan-pelan membuka. Labia terbuka dan bagian kepala bayi itu kelihatan muncul di lubang vagina. Pembukaan &lt;i&gt;cervix&lt;/i&gt; begitu sempurna. Bayi Mei lahir. Ia bukan laki-laki. Mei merasa letih bercampur gembira. Ia melahirkan bayi tanpa operasi. Bayi itu, sekali lagi, bukan laki-laki. "Mengapa kita kehilangan lelaki?" tanya dokter itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dua tahun setelah Mei melahirkan bayinya, Rohan muncul. Ia tidak tidur di ranjang kamar mereka. Karena sudah menjadi kamar praktek dokter-dokter yang bergantian menjaga isterinya. Rohan paham. Ia terlalu lama meninggalkan kamar tidur itu tanpa menitipkan metafora dirinya. Hanya sekotak kondom tua yang sudah rusak dan bocor dimakan waktu. Kondom-kondom itu tergeletak di atas &lt;i&gt;nakas&lt;/i&gt; kecil sebelah ranjang tidur Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seakan memprovokasi kebencian purba kaum perempuan terhadap lelaki. Rohan pulang. Ia mengajak Mei sekali lagi bercinta seharian dari kamar hingga ke tepi tangga ruang belakang. Namun Mei menolak. Ia tak punya waktu menjinakkan kembali keliaran tubuh dokter berambut pirang dan dokter-dokter lain yang terkapar di atas ranjangnya. Mei dan dokter-dokter berlengan halus itu sudah terlalu lama kehilangan lelaki. Sulit baginya menghidupkan kembali berahi masa lalu melalui artefak sejarah lelaki yang terlupakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei akhirnya membunuh Rohan, setelah malam itu suaminya berhasil memerkosanya. Rohan hanya tersenyum ketika Mei menancapkan pisau dapur itu berulang-ulang ke perutnya. Rohan menikmati kekerasan demi kekerasan di atas ranjang kamarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Percikan darah yang muncrat dari tubuh lelaki itu memenuhi tembok kamar. Rohan kembali tersenyum penuh kemenangan hingga akhirnya mengejang kaku. Tidak lama dari aksi pembantaian itu, telepon genggam Mei berbunyi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;i&gt;Very pleased to call at your house. But when will be convenient for you&lt;/i&gt;?" kata Ana Maria, satu dari dokter-dokter yang menjadi teman tidur Mei. Mei tidak menjawab. Ia baru kehilangan tubuh lelaki. Rohan telah meningalkannya. Mei sempat memotong kemaluan suaminya, untuk mempertegas metafora dari kebermaknaan purba itu. Sepuluh tahun kemudian Rohan kembali bersamanya dalam kamar itu. Sementara bayi yang bukan lelaki, semakin membesar membangun kontruksi tubuhnya sendiri. Mei hanya menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dokter-dokter persalinan dalam kamarnya tak mampu membesarkan perutnya untuk melahirkan bayi-bayi baru sebanyak mungkin. Sebagaimana mimpi-mimpi Mei ketika dinikahi Rohan. "Tak akan pernah lahir bayi dari tubuh halus mereka," ungkap Mei menoleh ke dokter yang masih tertidur pulas di ranjangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Mengapa kamu membunuh Rohan?" tanya ketua majelis hakim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Ia tidak mencintai aku," jawab Mei.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kamu menyesal?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Tidak!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Mengapa?" tanya hakim kesal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Aku tak butuh Rohan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei akhirnya divonis hukuman 10 tahun penjara. Di dalam kamar sel wanita penjara kelas satu itu, Mei menemukan sejarah dirinya. Ia tersenyum. Karena tidak lagi mengonsumsi simbol kemaluan suaminya. Mei pergi dengan mengebatkan sal panjang di lehernya. Ia tak ingin terperangkap jeruji besi kamar sel itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mei ingin melepaskan keletihan. Tidur memeluk sunyi. Lalu tubuh perempuan itu jatuh mencium lantai. Pintu sel dibuka. Terlihat samar sepatu-sepatu lelaki berjajar tepat di wajahnya. Setelah itu gelap. Mei pergi meninggalkan penjara dan bayinya yang terus membesar. Mereka bukan lelaki.&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt; (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-4404081515012555347?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/4404081515012555347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=4404081515012555347' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/4404081515012555347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/4404081515012555347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/mairat-mei.html' title='Mairat Mei'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SP9QcZ6wd7I/AAAAAAAAAIQ/sjOVrL8rezc/s72-c/edy-firmansyah.blogspot.com.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-8333931178784657421</id><published>2008-10-14T07:41:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T07:48:45.996-07:00</updated><title type='text'>Pangeran Keduaku: Sema Epik Revolka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSxC_GQHHI/AAAAAAAAAEQ/m_BJEXmt-0k/s1600-h/b.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSxC_GQHHI/AAAAAAAAAEQ/m_BJEXmt-0k/s320/b.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257021329903721586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSxDImUKuI/AAAAAAAAAEY/A9tb6CTZAyg/s1600-h/n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSxDImUKuI/AAAAAAAAAEY/A9tb6CTZAyg/s320/n.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257021332454124258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSxDSr829I/AAAAAAAAAEg/EaIJQ1N4wOs/s1600-h/e.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSxDSr829I/AAAAAAAAAEg/EaIJQ1N4wOs/s320/e.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257021335162117074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-8333931178784657421?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/8333931178784657421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=8333931178784657421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/8333931178784657421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/8333931178784657421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/pangeran-keduaku-sema-epik-revolka.html' title='Pangeran Keduaku: Sema Epik Revolka'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSxC_GQHHI/AAAAAAAAAEQ/m_BJEXmt-0k/s72-c/b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-5447952525698914574</id><published>2008-10-14T07:36:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T07:51:26.160-07:00</updated><title type='text'>Pangeran Pertamaku: Sema Giga Ramadan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSup5EVgAI/AAAAAAAAAD4/mrQMRlPV3Oc/s1600-h/i.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSup5EVgAI/AAAAAAAAAD4/mrQMRlPV3Oc/s320/i.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257018699765088258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuqMCMEHI/AAAAAAAAAEA/uA2E_70lOPY/s1600-h/k.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuqMCMEHI/AAAAAAAAAEA/uA2E_70lOPY/s320/k.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257018704856354930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuqCLoj1I/AAAAAAAAAEI/igMakZrgKI0/s1600-h/l.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuqCLoj1I/AAAAAAAAAEI/igMakZrgKI0/s320/l.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257018702211616594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-5447952525698914574?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/5447952525698914574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=5447952525698914574' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/5447952525698914574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/5447952525698914574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/pangeran-pertama-sema-giga-ramadan.html' title='Pangeran Pertamaku: Sema Giga Ramadan'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSup5EVgAI/AAAAAAAAAD4/mrQMRlPV3Oc/s72-c/i.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-608670152823182271</id><published>2008-10-14T07:33:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T07:35:40.290-07:00</updated><title type='text'>Permaisuriku: Bisri Merduani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuBEpUgxI/AAAAAAAAADg/K7UOkaonQfo/s1600-h/bicik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuBEpUgxI/AAAAAAAAADg/K7UOkaonQfo/s320/bicik.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257017998498366226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuBY-yCJI/AAAAAAAAADo/shjooqPopXQ/s1600-h/bicik1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuBY-yCJI/AAAAAAAAADo/shjooqPopXQ/s320/bicik1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257018003957090450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuBfjKWaI/AAAAAAAAADw/PbbP251jJQY/s1600-h/bicik4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuBfjKWaI/AAAAAAAAADw/PbbP251jJQY/s320/bicik4.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257018005720291746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-608670152823182271?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/608670152823182271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=608670152823182271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/608670152823182271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/608670152823182271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/permaisuriku-bisri-merduani.html' title='Permaisuriku: Bisri Merduani'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSuBEpUgxI/AAAAAAAAADg/K7UOkaonQfo/s72-c/bicik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-2577212333674796386</id><published>2008-10-14T07:22:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T07:32:19.518-07:00</updated><title type='text'>Gadisku: Sesi Mellinium 2000</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrkzrIV5I/AAAAAAAAADA/tJqFzysl_3c/s1600-h/xx.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrkzrIV5I/AAAAAAAAADA/tJqFzysl_3c/s320/xx.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257015313882961810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrk8PmBvI/AAAAAAAAADI/31OZMikstbk/s1600-h/yy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrk8PmBvI/AAAAAAAAADI/31OZMikstbk/s320/yy.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257015316183385842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrk3VmQhI/AAAAAAAAADQ/3L4i6pRDx0g/s1600-h/x.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrk3VmQhI/AAAAAAAAADQ/3L4i6pRDx0g/s320/x.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257015314866389522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrlDfvurI/AAAAAAAAADY/rAw0Ui9Os2k/s1600-h/z.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrlDfvurI/AAAAAAAAADY/rAw0Ui9Os2k/s320/z.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257015318130178738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-2577212333674796386?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/2577212333674796386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=2577212333674796386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/2577212333674796386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/2577212333674796386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/gadikus-sesi-mellinium-2000.html' title='Gadisku: Sesi Mellinium 2000'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPSrkzrIV5I/AAAAAAAAADA/tJqFzysl_3c/s72-c/xx.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-3095460574287475261</id><published>2008-10-13T03:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T03:30:03.914-07:00</updated><title type='text'>Lesung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPMjEyepvSI/AAAAAAAAACg/c85jm_CVTmA/s1600-h/Picture+Acara+Prasasti+014.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPMjEyepvSI/AAAAAAAAACg/c85jm_CVTmA/s400/Picture+Acara+Prasasti+014.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256583755248287010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akulah lesung bagi kerinduanku akan sejarah Kisam. Akulah lesung yang hilang dari aroma sungai. Bergelut dengan dingin pengelandangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-3095460574287475261?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/3095460574287475261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=3095460574287475261' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/3095460574287475261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/3095460574287475261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/lesung.html' title='Lesung'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SPMjEyepvSI/AAAAAAAAACg/c85jm_CVTmA/s72-c/Picture+Acara+Prasasti+014.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-6095957323190811694</id><published>2008-10-10T09:15:00.000-07:00</published><updated>2008-10-10T10:12:35.230-07:00</updated><title type='text'>Menikmati Lagu-lagu Jagat Band</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SO-LfAtEwOI/AAAAAAAAACE/GJTa3qomzzY/s1600-h/2.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255572655045918946" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SO-LfAtEwOI/AAAAAAAAACE/GJTa3qomzzY/s400/2.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;INGIN ingin menikmati lagu milik Jagat Band? Ada di &lt;a href="http://www.youtube.com/user/musimengalir"&gt;www.youtube.com/user/musimengalir&lt;/a&gt;, termasuk lagu saya, "Orang-Orang Transisi".&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-6095957323190811694?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/6095957323190811694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=6095957323190811694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6095957323190811694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/6095957323190811694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/menikmati-lagu-lagu-jagat-band.html' title='Menikmati Lagu-lagu Jagat Band'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SO-LfAtEwOI/AAAAAAAAACE/GJTa3qomzzY/s72-c/2.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8643768266435862610.post-2370286861516460114</id><published>2008-10-08T09:42:00.001-07:00</published><updated>2008-10-08T09:45:37.460-07:00</updated><title type='text'>Inilah Aku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SOzjfUsohZI/AAAAAAAAAAM/7X5wl2WBp6g/s1600-h/DSC01371.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254824992505890194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SOzjfUsohZI/AAAAAAAAAAM/7X5wl2WBp6g/s400/DSC01371.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;DI manakah aku di antara mereka ini?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8643768266435862610-2370286861516460114?l=coniesema.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://coniesema.blogspot.com/feeds/2370286861516460114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8643768266435862610&amp;postID=2370286861516460114' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/2370286861516460114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8643768266435862610/posts/default/2370286861516460114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://coniesema.blogspot.com/2008/10/inilah-aku.html' title='Inilah Aku'/><author><name>Rakyat harus Cerdas!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11014982671357108758</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/S6oHFp43HPI/AAAAAAAAASM/YcYPMsNE7Tk/S220/conie+dan+dimas.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_6QNgQjbt0kM/SOzjfUsohZI/AAAAAAAAAAM/7X5wl2WBp6g/s72-c/DSC01371.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
